Malino, Eks Peristirahatan Belanda yang Kaya Destinasi Wisata Memukau

6 November 2019
Malino, Eks Peristirahatan Belanda yang Kaya Destinasi Wisata Memukau

Selain Pantai Losari, masih banyak tempat menarik di Sulawesi Selatan yang menarik untuk dikunjungi. Salah satu yang sangat direkomendasikan untuk dikunjungi adalah Malino. Eks tempat peristirahatan Belanda ini begitu kaya akan destinasi wisata yang memukau dan sayang untuk dilewatkan. Terletak di Kecamatan Tinggi Moncong, Kabupaten Gowa, Malino dikenal dengan sebutan Kota Bunga. Sebutan itu tak terlepas dari banyaknya jenis bunga yang tumbuh di kota mungil ini. Nama Malino mulai naik daun sejak Belanda membangun tempat ini sebagai tempat peristirahatan pada 1927.

Prasasti Malino 1927 pun masih terlihat jelas di tepi jalan menuju Kota Malino. Oleh karena pernah menjadi Kota Belanda, tak mengherankan jika banyak bunga yang ada di Belanda hidup di Malino. Konon, terdapat sekitar 1000 bunga yang hidup di kota mungil ini juga ada di Belanda. Diantara banyak bunga yang hidup, salah satu yang paling terkenal adalah Bunga Spathodea. Bunga berwarna oranye ini dibawa ke Malino oleh Belanda pada 1930 silam. Hingga kini bunga Spathodea dengan mudah dijumpai di tempat ini. Saat musim kemarau bunga-bunga itu mekar dan semakin membuat suasana Malino ceria bak musim semi di Belanda.

Tak jauh dari pusat kota Malino, Anda bisa melihat keindahan alam Hutan Pins. Untuk menuju ke tempat ini, Anda bisa mengendarai sepeda motor, mobil atau bahkan berjalan kaki dari penginapan di Malino jika memilki cukup waktu luang. Sesampainya di hutan pinus, Anda akan dibuai dengan keindahan barisan pohon pinus nan menjulang dengan warna hijau yang menyejukan mata. Tempat ini cocok untuk berwisata bersama keluarga maupun pasangan. Anda dapat menghabiskan waktu dengan mengendarai kuda atau sekedar duduk santai di warung-warung yang menjajakan minuman hangat dan aneka cemilan juga makanan ‘berat.

Sedikit naik lagi dari hutan pinus, cobalah untuk mampir ke kebun teh. Suasana di tempat ini sedikit lebih dingin daripada di pusat kota Malino. Hal ini lantaran tempatnya yang lebih tinggi—semakin mendekati Gunung Bawakaraeng. Oleh karena hawanya yang dingin, mencicipi panasnya secangkir teh yang dipetik langsung dari perkebunannya di Kebun Teh Malino akan terasa ‘berbeda’ dan nikmat.

Ada banyak air terjun di sekitar Malino. Namun, Air Terjun Takappala adalah yang paling terkenal dan sering dikunjungi pelancong. Dari parkiran, untuk menuju air terjunnya, Anda perlu berjalan kaki melewati banyak tangga. Lelah melewati banyak anak tangga itu akan terbayarkan seketika saat Anda menyaksikan kucuran air terjun yang mengucur dari ketinggian membentur dinding-dining batuan yang khas berbentuk persegi. Hal ini sangat unik sekali!. Mengunjungi Malino adalah sebuah piknik yang sempurna. Sekali melancong, Anda dapat langsung menyaksikan sekaligus keindahan alam, budaya sekaligus sejarah dari eks kota Belanda itu. (y)


Topic : Wisata Alam
Tags : , , , , ,

Artikel Lainnya